{"id":1399,"date":"2024-02-08T01:48:05","date_gmt":"2024-02-08T01:48:05","guid":{"rendered":"https:\/\/dev.webdeveloper.web.id\/?page_id=1399"},"modified":"2024-02-08T01:50:35","modified_gmt":"2024-02-08T01:50:35","slug":"how-we-got-here","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/ogsindonesia.nl\/id\/how-we-got-here\/","title":{"rendered":"Bagaimana kami sampai di sini"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-page\" data-elementor-id=\"1399\" class=\"elementor elementor-1399\" data-elementor-post-type=\"page\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-4b67faf e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"4b67faf\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-104cd89 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"104cd89\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.21.0 - 25-04-2024 *\/\n.elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px}<\/style><h2 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">Bagaimana kami sampai di sini?<\/h2>\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-a567edf elementor-invisible elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"a567edf\" data-element_type=\"widget\" data-settings=\"{&quot;_animation&quot;:&quot;fadeInUp&quot;}\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.21.0 - 25-04-2024 *\/\n.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:#69727d;color:#fff}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap{color:#69727d;border:3px solid;background-color:transparent}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap{margin-top:8px}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap-letter{width:1em;height:1em}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap{float:left;text-align:center;line-height:1;font-size:50px}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap-letter{display:inline-block}<\/style>\t\t\t\t<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan menjadi Yayasan Makam Kehormatan Belanda di Indonesia berakar kuat setelah Perang Dunia Kedua dan Revolusi Nasional Indonesian. Pendirian makam kehormatan Belanda di Indonesia dapat ditelusuri kembali antara tahun 1946 dan 1950, yang diprakarsai oleh Dinas Pemakaman Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Periode ini menandai upaya bersama untuk menghormati dan menyediakan tempat peristirahatan bagi mereka yang kehilangan nyawa selama masa-masa sulit ini.<\/span><\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-d69db18 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"d69db18\" data-element_type=\"container\" data-settings=\"{&quot;background_background&quot;:&quot;classic&quot;}\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-34097aa elementor-invisible elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"34097aa\" data-element_type=\"widget\" data-settings=\"{&quot;_animation&quot;:&quot;fadeInUp&quot;}\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t<p><span style=\"color: var( --e-global-color-text ); font-family: var( --e-global-typography-text-font-family ), Sans-serif; text-align: var(--text-align); background-color: var( --e-global-color-b000e15 ); font-size: 1rem;\">Setelah Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan dan terjadi penyerahan kedaulatan, pemerintah Indonesia berperan penting dalam mengonsolidasikan tempat-tempat peringatan ini. Sebuah permintaan diajukan untuk memusatkan korban perang dari 22 ke 12 makam kehormatan utama di seluruh nusantara, yang kemudian dirucutkan kembali menjadi 7 makam kehormatan yang kita kelola di Jawa saat ini. Konsolidasi ini bukan hanya sebagai tindakan penghormatan bagi mereka yang gugur, tetapi juga sebagai sarana untuk melestarikan kenangan bersejarah di lokasi-lokasi penting, sehingga dapat diakses oleh generasi mendatang untuk memberikan penghormatan dan pembelajaran dari masa lalu.<br \/><\/span><span style=\"color: var( --e-global-color-text ); font-family: var( --e-global-typography-text-font-family ), Sans-serif; text-align: var(--text-align); background-color: var( --e-global-color-b000e15 ); font-size: 1rem;\"><br \/>Selain itu, dengan pembubaran KNIL pada tahun 1950, tanggung jawab pemeliharaan dari unit pendaftaran makam KNIL dialihkan ke Yayasan Makam Kehormatan Belanda. Hal ini menandakan kelanjutan komitmen untuk menghormati kenangan baik personel militer maupun warga sipil yang terkena dampak perang. Penyerahan ini memastikan bahwa perawatan dan pelestarian situs-situs khidmat ini akan dikelola dengan rasa hormat dan dedikasi yang tinggi, menjunjung tinggi warisan sejarah mereka yang dimakamkan.<br \/><\/span><span style=\"color: var( --e-global-color-text ); font-family: var( --e-global-typography-text-font-family ), Sans-serif; text-align: var(--text-align); background-color: var( --e-global-color-b000e15 ); font-size: 1rem;\"><br \/>Seiring berjalannya waktu, di tujuh makam kehormatan ini, kami kini memelihara makam korban perang dari tiga periode konflik yang signifikan: Perang Dunia II di Asia (1942-1945), Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949), dan Persengketaan Irian Barat (1950-1962). Melalui pemeliharaan makam-makam kehormatan ini, Yayasan Makam Kehormatan Belanda di Indonesia terus berfungsi sebagai tempat mengenang, merenungkan, dan memahami, serta memastikan bahwa terdapat pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari gema sejarah, menuntun jalan kita menuju perdamaian dan keamanan bagi semua.<\/span><\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>How we got here? The journey to where we stand today with the Netherlands War Graves Foundation in Indonesia is deeply rooted in the aftermath of World War II and the ensuing Indonesian War of Independence. The establishment of Dutch war cemeteries in Indonesia can be traced back to between 1946 and 1950, initiated by [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"elementor_header_footer","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ogsindonesia.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/1399"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ogsindonesia.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/ogsindonesia.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ogsindonesia.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ogsindonesia.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1399"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/ogsindonesia.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/1399\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1413,"href":"https:\/\/ogsindonesia.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/1399\/revisions\/1413"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ogsindonesia.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1399"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}